Harga Obat di Indonesia Paling Mahal Se-ASEAN

harga obat di indonesia paling mahal se asean

Dalam salah satu wacana menyebutkan bahwa harga obat di Indonesia paling mahal se-ASEAN. Hal ini tentu membuat Menteri Kesehatan, Nila F.Moeloek angkat bicara soal tudingan tersebut.

Beliau mengatakan bahwa harga obat-obatan di Indonesia, tepatnya obat generik memiliki harga 30% di bawah ketentuan WHO walaupun masih terganjal obat paten. Beliau juga mengungkapkan jika pengajuan serta pembelian obat di tanah air telah dilakukan berdasarkan prosedur yang berlaku serta bersifat terbuka.

Daftar obat yang telah dibeli dicek terlebih dahulu oleh formulatorium nasiol untuk dianalisis keamanannya berdasarkan beberapa kriteria oleh para ahli farmasi. Setelah itu, obat tersebut dimasukkan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) untuk dianalisa lebih lanjut mengenai harga dan kualitasnya, dan tentunya dipastikan 30% harga obat lebih murah dari standar yang ditentukan WHO. Kemudian ia juga memaparkan jika keterbukaan ini tentunya dilaporkan kepada presiden nantinya.

Semua daftar obat yang suah dibeli pemerintah ini dimasukkan ke dalam e-catalog dengan kelengkapan sesuai penyakitnya. Sampai saat ini ada 1.000 daftar obat (kurang lebih) yang terpampang di e-catalog ini. Sedangkan untuk obat paten atau generik yang bermerek, Ibu menteri mengungkapkan jika pemerintah belum bisa menentukan rata-rata harga jualnya, sehingga membuat para pihak di bidang farmasi mengambil keputusan sendiri untuk produksi dari luar negeri. Hal ini juga diakibatkan oleh farmasai dalam negeri belum bisa menciptakan obat-obatan paten terentu seperti obat kanker yang memang tengah banyak dicari oleh masyarakat tanah air di berbagai kalangan status sosial maupun usia. Keadaan seperti ini membuat Ibu Menteri Kesehatan berjanji akan lebih berupaay dalam menawar harga obat yang dibutuhkan masyarakat bisa mendapatkan harga yang terjangkau.

Baca juga : Tren Makanan di Tahun Baru 2016 yang Harus Diperhatikan

Muhammad Syarkawi Rauf, Ketua KPPU (Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha), sebelumnya tengah mengungkapkan jika harga obat di Indonesia menjadi harga obat yang tertinggi di ASEAN. Beliau yang usai bertemu dengan Wakil Presiden bulan lalu di Jakarta juga mengatakan, “Jika dibandingkan dengan Malaysia, kita masih jauh lebih mahal.”

Beliau pun menganjurkan agar kebijakan mengenai batasan harga eceran tertinggi, terlebih obat generik merek, jangan sampai 2 kali lipat lebih mahal dari harga generiknya. Hal ini ditujukan untuk menghindari industri farmasi menentukan harga eceran sendiri yang mungkin bisa saja lebih tinggi dari ketentuan yang ditetapkan WHO.

Sebagai masyarakat, mungkin kita hanya bisa mendo’akan saja agar pemerintah bisa mengatasi segala bentuk permasalahannya, terutama pada hal penetapan harga obat dan upaya melahirkan obat yang lebih berkualitas untuk penyandang penyakit mematikan. Karena dengan ini, para penderita penyakit di Indonesia, bahkan untuk penyakit mematikan, bisa lebih cepat mendapatkan pengobatan, Indonesia pun akan lebih sehat ke depannya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *